Saturday, January 24, 2015

7 RAHASIA Wanita YANG WAJIB DIPAHAMI PRIA

1. Para wanita cenderung mengambil risiko yang lebih tinggi seiring dengan bertambahnya usia.

Wanita berusia di atas 50 tahun memiliki keinginan yang lebih tinggi untuk melakukan hal-hal baru. Pada saat usia memasuki usia mapan tersebut, wanita ingin menikmati hidupnya secara lebih berkualitas setelah bertahun-tahun mengasuh dan melayani keluarganya.

Ini yang mungkin sulit dipahami suami. Di saat-saat usia seperti itu, para pria biasanya mengalami penurunan hasrat atau gairah yang dipicu oleh turunnya kadar hormon testosteron dalam tubuh.

2. Para wanita umumnya akan mengalami pubertas kedua saat usia memasuki 40 tahun.

Saat-saat sebelum memasuki masa menopause, wanita akan melewati masa yang disebut perimenopause selama sekitar sembilan tahun. Pada masa tersebut, wanita cenderung labil karena terjadi perubahan hormon di dalam dirinya yang memicu terjadinya perubahan siklus menstruasi.

Para pria kadang melewatkan kondisi ini sehingga tidak mengerti mengapa istrinya sulit mengerti atau bahkan cepat marah. Di usia 40 tahunan pada umumnya pria sudah mencapai tahap emosional yang stabil sehingga perlu lebih bijaksana jika istri terlihat labil.

3. Merawat anak membuat wanita tenang.

Sebuah jurnal pada tahun 2005 mempublikasikan penemuan bahwa menyusui pada wanita membuatnya nyaman dan tidak stres. Bahkan menurut jurnal tersebut efek menyusi jauh lebih menenangkan ketimbang menggunakan obat-obat penenang seperti kokain.

Fakta ini penting dan wajib diketahui oleh semua pria. Salah satu penyebab utama pertengkaran dalam rumah tangga adalah karena belum adanya anak dalam keluarga itu. Banyak hal-hal kecil dan sepele akhirnya menjadi pertengkaran hebat karena emosi yang tidak stabil.

4. Selama masa kehamilan otak wanita mengalami penciutan. 

Pada saat hamil, umumnya perempuan menjadi sedikit pelupa dan bahkan lemot. Wanita juga cenderung istirahat dan cepat mengantuk. Hal ini terjadi karena otak wanita mengalami penciutan sebanyak empat persen. Setelah kelahiran terjadi maka ukuran otak akan kembali normal.

Saat masa kehamilan emosi wanita juga kerap meledak akibat adanya perubahan hormon dalam dirinya. Dalam masa-masa itu, suami perlu menyadari bahwa istinya tidak sedang menjadi dirinya sendiri dan perlu lebih sabar menghadapinya.

5. Rangsangan seksual wanita mudah hilang.

Wanita mudah terganggu untuk hal-hal yang dipandang sepele oleh pria. Begitu juga dalam urusan seks. Perempuan hanya bisa orgasme jika beberapa bagian dari otaknya tertutup, sayangnya bagian otak wanita tersebut mudah terbuka jika terpancing oleh hal-hal seperti tidak nyaman, sedang marah, bau badan, dan lain-lain.

Ini yang kadang dilupakan pria. Bulu hidung yang tidak terawat bisa menyebabkan wanita kehilangan selera saat bercinta. Begitu juga dengan bau badan dan bahkan penampilan. Beberapa perempuan tidak percaya diri bercinta di pagi hari karena merasa dirinya jelek di waktu-waktu itu.

6. Wanita cenderung tidak menyukai sikap agresi dan konflik

Karena sifat wanita yang lembut dan memiliki insting menjaga dan merawat keluarganya maka wanita cenderung menghindari sikap agresif dan konfrontasi. Ini pula yang sering terjadi di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Konflik sekecil apapun kadang membuat mereka menarik diri.

Bagi pria yang memang lebih toleran terhadap konflik kadang tidak memahami sifat wanita yang seperti itu. Dalam hal ini memang perlu ditimbulkan rasa tenggang rasa dan mengembangkan empati untuk menenangkan wanita yang sedang resah.

7. Wanita cenderung mudah sakit.

Wanita lebih rentan terkena depresi dan stres ketimbang pria dikarenakan otak wanita yang cenderung lebih sensitif terhadap rasa sakit. Demikian hasil sebuah studi yang dilakukan selama sepuluh tahun terhadap otak dan perilaku wanita.


Beberapa pria kadang sulit mengerti mengapa istri atau pacar mereka sering mengeluh sakit untuk hal-hal sepele. Dalam hal ini seperti hasil penelitian di atas, otak wanita memang cenderung lebih cepat menanggapi kondisi di sekitar mereka.

No comments:

Post a Comment