Wanita berusia di
atas 50 tahun memiliki keinginan yang lebih tinggi untuk melakukan hal-hal
baru. Pada saat usia memasuki usia mapan tersebut, wanita ingin menikmati
hidupnya secara lebih berkualitas setelah bertahun-tahun mengasuh dan melayani
keluarganya.
Ini yang mungkin
sulit dipahami suami. Di saat-saat usia seperti itu, para pria biasanya
mengalami penurunan hasrat atau gairah yang dipicu oleh turunnya kadar hormon
testosteron dalam tubuh.
2. Para wanita
umumnya akan mengalami pubertas kedua saat usia memasuki 40 tahun.
Saat-saat sebelum
memasuki masa menopause, wanita akan melewati masa yang disebut perimenopause
selama sekitar sembilan tahun. Pada masa tersebut, wanita cenderung labil
karena terjadi perubahan hormon di dalam dirinya yang memicu terjadinya
perubahan siklus menstruasi.
Para pria kadang
melewatkan kondisi ini sehingga tidak mengerti mengapa istrinya sulit mengerti
atau bahkan cepat marah. Di usia 40 tahunan pada umumnya pria sudah mencapai
tahap emosional yang stabil sehingga perlu lebih bijaksana jika istri terlihat
labil.
3. Merawat anak
membuat wanita tenang.
Sebuah jurnal
pada tahun 2005 mempublikasikan penemuan bahwa menyusui pada wanita membuatnya
nyaman dan tidak stres. Bahkan menurut jurnal tersebut efek menyusi jauh lebih
menenangkan ketimbang menggunakan obat-obat penenang seperti kokain.
Fakta ini penting
dan wajib diketahui oleh semua pria. Salah satu penyebab utama pertengkaran
dalam rumah tangga adalah karena belum adanya anak dalam keluarga itu. Banyak
hal-hal kecil dan sepele akhirnya menjadi pertengkaran hebat karena emosi yang
tidak stabil.
4. Selama masa
kehamilan otak wanita mengalami penciutan.
Pada saat hamil,
umumnya perempuan menjadi sedikit pelupa dan bahkan lemot. Wanita juga cenderung
istirahat dan cepat mengantuk. Hal ini terjadi karena otak wanita mengalami
penciutan sebanyak empat persen. Setelah kelahiran terjadi maka ukuran otak
akan kembali normal.
Saat masa
kehamilan emosi wanita juga kerap meledak akibat adanya perubahan hormon dalam
dirinya. Dalam masa-masa itu, suami perlu menyadari bahwa istinya tidak sedang
menjadi dirinya sendiri dan perlu lebih sabar menghadapinya.
5. Rangsangan
seksual wanita mudah hilang.
Wanita mudah
terganggu untuk hal-hal yang dipandang sepele oleh pria. Begitu juga dalam
urusan seks. Perempuan hanya bisa orgasme jika beberapa bagian dari otaknya
tertutup, sayangnya bagian otak wanita tersebut mudah terbuka jika terpancing
oleh hal-hal seperti tidak nyaman, sedang marah, bau badan, dan lain-lain.
Ini yang kadang
dilupakan pria. Bulu hidung yang tidak terawat bisa menyebabkan wanita
kehilangan selera saat bercinta. Begitu juga dengan bau badan dan bahkan
penampilan. Beberapa perempuan tidak percaya diri bercinta di pagi hari karena
merasa dirinya jelek di waktu-waktu itu.
6. Wanita
cenderung tidak menyukai sikap agresi dan konflik
Karena sifat
wanita yang lembut dan memiliki insting menjaga dan merawat keluarganya maka
wanita cenderung menghindari sikap agresif dan konfrontasi. Ini pula yang
sering terjadi di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Konflik sekecil apapun
kadang membuat mereka menarik diri.
Bagi pria yang
memang lebih toleran terhadap konflik kadang tidak memahami sifat wanita yang
seperti itu. Dalam hal ini memang perlu ditimbulkan rasa tenggang rasa dan
mengembangkan empati untuk menenangkan wanita yang sedang resah.
7. Wanita
cenderung mudah sakit.
Wanita lebih
rentan terkena depresi dan stres ketimbang pria dikarenakan otak wanita yang
cenderung lebih sensitif terhadap rasa sakit. Demikian hasil sebuah studi yang
dilakukan selama sepuluh tahun terhadap otak dan perilaku wanita.
Beberapa pria
kadang sulit mengerti mengapa istri atau pacar mereka sering mengeluh sakit
untuk hal-hal sepele. Dalam hal ini seperti hasil penelitian di atas, otak
wanita memang cenderung lebih cepat menanggapi kondisi di sekitar mereka.
No comments:
Post a Comment